Oleh: Jutino Djogo, MA., MBA.
SUHU Moskow yang ekstrem menggigit tulang, seolah berubah seketika menjadi hangat saat Mikhail Gorbachev pemimpin Uni Soviet membuka sebuah pintu yang selama puluhan tahun dijaga ketat: keterbukaan. Gorbachev sadar, kapalnya sedang oleng akibat kondisi “pra-krisis” : ekonomi macet, perang berlarut di Afghanistan, dan dunia luar semakin menjauh dari Moskow. Dari titik itulah Glasnost lahir. Maka hari itu, 11 Maret 1985, Gorbachev mengumumkan Glasnost (keterbukaan).
Gorbachev mungkin bermaksud memasukkan udara segar ke dalam sistem yang mulai pengap. Bila rakyat diberi ruang bicara dan kritik, mereka justru akan mendukung perubahan yang diinginkan. Dan Gorbachev tidak sendirian. Ada Alexander Yakovlev, penasihat dekatnya, dijuluki “arsitek glasnost”. Karena Yakovlev yang merancang strategi membuka media dan ruang publik secara bertahap.
Perubahan semacam Glasnost, juga pernah dialami Indonesia, dengan lahirnya Reformasi 1998. Perubahan sistem itu pula, yang memungkinkan Presiden Prabowo sebagai Tamu Kehormatan Rusia, duduk dan menandatangani kerja sama spektakuler antara Rusia dengan Indonesia. Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putin di Vladivostok sepekan lalu, adakah berarti Indonesia ikut masuk ke dalam proyek besar Rusia: mengubah Vladivostok dan Far East menjadi gerbang ekonomi Rusia ke Asia-Pasifik?
RESTRUKTURISASI (PERESTROIKA) DAN KETERBUKAAN (GLASNOST)
Perestroika berarti restrukturisasi. Glasnost berarti keterbukaan. Empat puluh tahun kemudian, istilah tersebut kembali menarik untuk kita bahas, sehubungan kondisi dan perkembangan negara kita.
Tujuan Glasnost, sebenarnya sederhana: ingin menekan kelompok konservatif di Partai Komunis, yang menolak reformasi ekonomi Perestroika besutan Gorbachev. Maka awalnya, Gorbachev berbicara tentang uskoreniye, percepatan. Tetapi ia segera memahami, bahwa mempercepat mesin rusak, tak cukup untuk memperbaiki keadaan. Dari sinilah perestroikadan glasnost memperoleh tempat penting dalam agenda politiknya.
Ternyata, ongkos yang harus dibayar oleh Glasnost, tak murah. Ketika sebuah kekuasaan mulai berani membuka diri terhadap suara rakyat, ia harus siap menerima seluruh konsekuensinya. Masuknya kritik, ingatan, kemarahan, nasionalisme, tuntutan perubahan— hanyalah awal. Glasnost yang dirancang untuk menyelamatkan Uni Soviet, berubah menjadi salah satu eksperimen politik paling dramatis abad ke-20. Kelak pada 2005, Presiden Putin menyebut pecahnya Uni Soviet sebagai “Bencana Geopolitik Terbesar Abad 20”.
Sebelum Glasnost, negaralah yang mengendalikan informasi. Rakyat hidup dalam versi resmi suara negara. Tapi Glasnost bagai kuda liar terlepas kekang, karena reformasi memiliki logikanya sendiri. Ketika informasi dibuka, bagai cermin bening dua arah. Korupsi terlihat, kesalahan pemerintah tak dapat ditutupi, kekerasan masa lalu diungkit-ungkit. Dalam menyampaikan aspirasi, masyarakat yang memperoleh kesempatan berbicara, tidak lagi mampu dibendung sepenuhnya oleh Kremlin. Bahkan sejarah Stalin mulai dibongkar.
Perestroika, tak kalah gagal. Reformasi ekonomi yang dilakukan Gorbachev, antara lain dengan menghapus sistem komando yang mengatur pasokan barang. Sayangnya, kebijakan ini tidak membiarkan harga ditentukan oleh pasar bebas secara penuh. Akibatnya, rantai distribusi terputus total.
Kenyataan yang dihadapi rakyat Soviet: barang-barang kebutuhan pokok seperti roti, sabun, daging, dan rokok menghilang dari toko-toko resmi. Warga Soviet harus mengantre berjam-jam setiap hari di tengah suhu dingin ekstrem, hanya untuk mendapatkan jatah makanan dasar. Ya, makanan pun dijatah, menggunakan kupon ration alias Talony. Berupa kartu jatah belanja, tapi bukan pengganti uang.
Dampak lain Perestroika yang menghancurkan ekonomi Soviet adalah hiperinflasi dan kolapsnya nilai Rubel. Pemerintah Soviet mulai mencetak uang kertas dalam jumlah besar, untuk menutupi defisit anggaran yang membengkak. Hal ini memicu inflasi yang tidak terkendali. Uang Rubel kehilangan nilainya dengan sangat cepat di pasar gelap. Sehingga tabungan seumur hidup jutaan warga Soviet menjadi tidak berharga dalam sekejap.
Perestroika memungkinkan negara komunis Soviet untuk mengizinkan perusahaan swasta kecil (koperasi) dan otonomi pabrik. Namun “swastanisasi komunis” ini, diterapkan setengah hati. Bukannya cuan, malah manajemen pabrikmenyalahgunakan kebebasan ini untuk menaikkan upah buruh, demi popularitas. Padahal tak dibarengi dengan peningkatan produksi barang. Sehingga tercipta situasi ganjil yang nyata: warga memegang banyak uang, tetapi tak ada barang yang bisa dibeli di pasar.
Kelangkaan barang tentu saja dimanfaatkan dengan baik oleh para penyelundup dan mafia. Barang-barang bersubsidi milik negara, dilarikan ke pasar gelap untuk dijual dengan harga berkali-kali lipat. Praktik ini menjadi cikal bakal lahirnya para oligarki dan mafia Rusia yang menguasai aset-aset negara.
Krisis pangan pun tiba di Soviet, jauh lebih dulu dan lebih lama dibanding musim semi. Demi mengatasinya, pemerintah Kremlin mulai meminjam uang secara masif dari negara-negara Barat. Naas, harga minyak dunia —yang menjadi tumpuan utama pendapatan Soviet— justru anjlok drastis pada akhir dekade 1980-an. Kremlin akhirnya terjebak dalam utang luar negeri yang menumpuk, dan kehabisan cadangan emas.
Itu sebab, sejarah Soviet akhirnya bergerak keluar dari kendali Kremlin. Puncaknya pada 1991, saat Uni Soviet ‘terpecah” menjadi 15 negara-negara merdeka. Di Eropa Timur, pecahan Soviet menjadi Ukraina, Belarus, dan Moldova. Di kawasan Asia Tengah, berdirilah negara-negara baru Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kirgistan, dan Tajikistan. Sedangkan di wilayah Kaukasus, terbentuk negara Georgia, Armenia, dan Azerbaijan. Terakhir, di kawasan Baltik, ada negara Estonia, Latvia, dan Lituania. Rusia “ditinggal” bagai last man standing. Mungkinkah rakyat Uni Soviet “tertular” oleh runtuhnya Tembok Berlin Jerman pada 1989?
Vladimir Putin, seorang perwira intelijen KGB Soviet di Dresden, Jerman Timur, mengalami sendiri detik-detik pecahnya Uni Soviet. Saat itu, 5 Desember 1989 malam, sekitar satu bulan setelah runtuhnya Tembok Berlin, terjadi gelombang protes anti pemerintah Soviet di Jerman Timur. Massa merangsek ke markas Stasi (polisi rahasia Jerman Timur) . Dari sana, kerumunan demonstran lalu bergerak, untuk menyerbu vila yang menjadi markas intelijen KGB Soviet, tempat Putin bertugas.
Di tengah situasi panik tersebut, Putin menelepon komando militer Soviet di wilayah terdekat, untuk meminta bantuan perlindungan senjata. Namun, pihak militer menolak bertindak tanpa adanya instruksi langsung dari perintah pusat di Moskow. Namun, jawaban dari pusat saat itu, membuat sang perwira terpukul: “Moskow membisu.”
Pengalaman ini menorehkan trauma mendalam pada diri Vladimir Putin. Setelah resmi keluar dari KGB dan pulang ke Rusia, Putin merasakan langsung masa-masa suram akibat keterpurukan ekonomi pasca-Soviet. Ekonomi Rusia saat itu hancur, hiperinflasi meroket, dan banyak warga jatuh miskin. Putin sendiri pernah terpaksa bekerja sampingan sebagai sopir taksi gelap, demi menyambung hidupnya dan keluarganya.https://www.bbc.com/news/magazine-32066222. Peristiwa Dresden membuatnya sadar: betapa bahayanya kekosongan kekuasaan dan pemerintah pusat yang kehilangan kendali.
RUSIA PASCA GLASNOST
Rusia memasuki dekade 1990-an sebagai negara yang jauh lebih lemah daripada Uni Soviet dulu. Miris, melihat Rusia pada awal 1990-an. Negara yang pernah menandingi Amerika Serikat sebagai adidaya dunia, jatuh ke titik terlemah dalam sejarah modernnya. GDP-nya sendiri merosot lebih dari 60 persen sepanjang 1990-1999 [10].
Rusia bagai macan ompong. Salah satu contohnya, Putin menyaksikan langsung kelemahan itu, saat Putin menjabat sebagai Perdana Menteri Soviet. Saat itu, Presiden AS Bill Clinton menelpon Boris Yeltsin mengenai keputusan serangan udara NATO ke Serbia (terkait krisis Kosovo) pada 24 Maret 1999. Namun Presiden Soviet Boris Yeltsin, hanya bisa marah lewat telepon, tanpa mampu mencegahnya. https://nsarchive.gwu.edu/document/16841-document-16-memorandum-telephone-conversation
Presiden Boris Yeltsin mengundurkan diri —dengan alasan kesehatan— secara mendadak. Ia digantikan oleh Perdana Menteri Vladimir Putinsebagai pelaksana tugas (acting president), sejak 31 Desember 1999. Tiga bulan kemudian, Putin memenangkan pemilihan presiden resmi pertamanya pada Maret 2000.
Lalu datang masa pemulihan. Pada 2000, ekonomi Rusia mencatat pertumbuhan hingga 10 persen. Ini rekor tertinggi yang belum pernah terulang, terutama berkat lonjakan harga minyak dunia era 1998, dan penguatan disiplin fiskal-moneter [42]. IMF mencatat pertumbuhan ekonomi Rusia kembali menguat, sementara kenaikan harga minyak memberikan dorongan penting bagi investasi dan konsumsi.[11]
Putin memang mewarisi sebagian fondasi yang sudah mulai pulih sebelum ia berkuasa penuh. Devaluasi rubel setelah krisis 1998 membuat produk Rusia lebih kompetitif. Harga minyak meningkat. Pendapatan energi membesar. Negara memperoleh ruang fiskal yang lebih luas. Namun yang membuat Putin berbeda: ia mengonsolidasikan kekuatan yang ada. Yakni dengan cara “menjinakkan” para Oligarki, mengembalikan kendali pemerintah pusat atas daerah-daerah, dan memperkuat institusi negara.
Oligarki yang tumbuh sejak era awal Soviet pecah era 1990-an, punya kekuatan untuk mendikte hukum dan mengontrol presiden. Presiden Putin tak membiarkan kekuasaan oligarki itu langgeng. Ia menggunakan wewenangnya untuk merebut kembali aset-aset strategis negara (seperti perusahaan minyak) dan memaksa para oligarki tunduk di bawah kendali pemerintah. Jika mereka melawan, mereka dipenjara atau diasingkan.
Uni Soviet yang pecah, meninggalkan Rusia sebagai negara ceking yang gubernur-gubernur daerahnya bagai raja kecil yang menyepelekan pemerintah pusat. Maka Presiden Putin mengembalikan kendali pemerintah pusat atas daerah-daerah, dengan cara mengubah sistem pemilu daerah. Sehingga akhirnya Moskow bisa menunjuk langsung pemimpin-pemimpin wilayah, demi memastikan bahwa seluruh Rusia hanya tunduk dan patuh pada satu komando.
Lonjakan harga minyak dunia, memberi berkah pada Rusia, sejak penghujung era 1990. Maka Presiden Putin menggunakan uang minyak itu untuk membayar utang luar negeri, menaikkan gaji tentara, polisi, dan pegawai negeri. Serta membayar pensiun rakyat yang sempat macet bertahun-tahun.
ANTARA GLASNOST DAN REFORMASI 1998: INDONESIA MENGEJAR KETERTINGGALAN.
Glasnost berkumandang di Soviet, tiga belas tahun sebelum Reformasi Mei 1998. Keduanya sama: didorong oleh ambruknya nilai tukar mata uang masing-masing, dan menjulangnya harga kebutuhan pokok. Rakyat dan mahasiswa di kedua negara berdemonstrasi. Keriuhan dan chaos menjadi satu.
Tetapi Glasnost dan Reformasi 1998, bukanlah pintu yang sama menuju ruangan yang sama. Uni Soviet melakukan reformasi dari dalam sistem komunis. Indonesia menumbangkan rezim setelah krisis ekonomi dan tekanan politik yang sangat besar. Kajian Harold Crouch mengenai reformasi1998 Indonesia, menunjukkan bahwa runtuhnya Orde Baru berlangsung bersama kemerosotan ekonomi, kerusuhan, konflik komunal dan kekhawatiran mengenai disintegrasi negara.
Namun kemajuan yang digapai setelah Perubahan 30-40 tahun lalu di kedua negara itu, menghasilkan kemajuan yang sangat berbeda. Rusia lebih dulu maju dan melambung. Indonesia, belum sedahsyat Rusia.
Hari ini, kita melihat Rusia yang tak oleng, meski telah tiga tahun berkonflik (dan perang) dengan Ukraina. Tak salah bila kita menilai Rusia, sebagai negara dengan sejumlah kapasitas strategis, yang relevan bagi Indonesia. Karena Rusia mempunyai basis industri, teknologi, energi, pertahanan, ilmu pengetahuan, dan infrastruktur yang terbentuk selama puluhan tahun.
Perbandingan ekonominya menunjukkan kesenjangan yang masih cukup besar. Meski Rusia memang hanya tumbuh sekitar 1% pada 2025, dan Indonesia tumbuh 5,1%. Namun Data World Bank mencatat bahwa GDP Rusia pada 2025 sekitar US$2,56 triliun dengan GDP per kapita US$17.546,6. Sedangkan Indonesia sekitar US$1,45 triliun dengan GDP per kapita US$5.059,6.
Karena itu, ukuran kemajuan Rusia tidak tepat dinilai dari angka pertumbuhan tahunan saja. Yang lebih penting bagi Indonesia: terletak pada pembangunan kapasitas negara. Rusia memiliki industri strategis yang mampu bertahan selama puluhan tahun dalam membangun basis teknologi, sumber daya manusia, lembaga penelitian, industri berat, energi, pertahanan, dan infrastruktur. Indonesia dapat mengambil pelajaran dari sisi tersebut tanpa harus meniru seluruh model Rusia.
Kapasitas pertama Rusia yang sangat penting, adalah energi dan teknologi nuklir. Rusia memiliki industri nuklir yang terintegrasi, mulai dari penelitian, pengembangan reaktor, produksi bahan bakar nuklir, pembangunan pembangkit, sampai pengelolaan siklus bahan bakar. Kemampuan semacam ini relevan bagi Indonesia karena kebutuhan listrik nasional akan meningkat, seiring industrialisasi, elektrifikasi transportasi, pengembangan pusat data, kawasan industri, serta hilirisasi mineral.
Kerja sama Indonesia dengan Rusia dapat diarahkan pada pembangunan kemampuan nasional melalui pendidikan insinyur, pengembangan SDM nuklir, riset bersama, penguasaan teknologi, manufaktur komponen. Serta pembangunan fasilitas energi secara bertahap. Nilai strategisnya terletak pada pembentukan kemampuan domestik, sehingga Indonesia memiliki tenaga ahli dan industri pendukung sendiri dalam jangka panjang.
Kapasitas kedua adalah industri pupuk dan ketahanan pangan. Ini sudah memasuki tahap yang lebih konkret. Dalam pertemuan Prabowo–Putin di Vladivostok pada September 2026, Pupuk Indonesia menandatangani kajian bersama untuk kemungkinan investasi pabrik urea di Vladivostok.yang strategis dan menghadap Pasifik. Vladivostok dapat menjadi basis distribusi menuju pasar Asia-Pasifik.
Bagi Indonesia, kerja sama semacam ini dapat dikembangkan menjadi rantai pasok pupuk dan bahan baku pertanian yang lebih kuat, termasuk teknologi produksi, efisiensi energi, riset benih, mekanisasi pertanian, pengolahan pangan, serta distribusi.
Kapasitas ketiga adalah industri maritim dan perkapalan. Rusia mempunyai pengalaman panjang dalam pembangunan kapal, teknologi kelautan, perikanan, kapal pendukung industri, serta sistem maritim untuk wilayah yang sangat luas. Pada pertemuan di Vladivostok, Rusia menawarkan kepada Indonesia kapal penangkap ikan modern berukuran lebih dari 102 meter yang dilengkapi fasilitas pengolahan ikan. Indonesia kemudian akan mengirimkan tim untuk mempelajari teknologinya. https://thediplomat.com/2026/09/indonesias-president-pitches-his-country-as-russias-gateway-to-southeast-asia/.
Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dan kepentingan besar terhadap industri perikanan, transportasi laut, pertahanan maritim, serta pengawasan wilayah perairan. Mengingat hal itu, maka kerja sama dengan Rusia seharusnya dikembangkan menuju kemampuan membuat kapal di dalam negeri. Bukan lantas berhenti pada pembelian kapal Rusia.
Transfer desain, teknologi mesin, sistem navigasi, pengolahan hasil laut, pemeliharaan, hingga pelatihan insinyur dapat menghasilkan industri yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Indonesia bahkan dapat menggunakan pengalaman Rusia untuk memperkuat galangan nasional sehingga kapal yang dibuat di Indonesia kelak dapat digunakan sendiri sekaligus diekspor.
Kapasitas keempat adalah industri pertahanan. Rusia mempunyai basis industri pertahanan yang mencakup pesawat tempur, helikopter, sistem pertahanan udara, kendaraan lapis baja, kapal perang, rudal, radar, elektronika, serta teknologi antariksa. Reuters mencatat bahwa Rusia telah menawarkan pendalaman kerja sama militer-teknis dengan negara-negara sahabat melalui pasokan dan modernisasi persenjataan, produksi bersama, pelatihan, dan fasilitas bersama.https://www.reuters.com/world/china/putin-says-russia-plans-deepen-military-technical-ties-with-friendly-countries-2025-06-20/
Kerja sama Indonesia dengan Rusia karena itu dapat diarahkan pada peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional, terutama melalui produksi bersama, pemeliharaan dan overhaul di Indonesia. Dapat juga dalam hal penguasaan komponen, pengembangan sistem elektronik, serta pendidikan teknisi dan insinyur pertahanan.
Hal tersebut penting bagi Indonesia karena kekuatan militer modern semakin ditentukan oleh kemampuan memproduksi, memelihara, memperbaiki, meng-upgrade, dan mengintegrasikan sistem persenjataan. Membeli platform, akan memberikan kemampuan operasional. Sedangkan penguasaan teknologi dan industri, akan memberikan kemampuan strategis. Antara lain dalam memperkuat industri pertahanan nasional tanpa menggantungkan seluruh sistem pertahanannya kepada satu negara. Pola ini juga sesuai dengan politik luar negeri Indonesia yang tetap menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan besar.
Kapasitas kelima adalah metalurgi, pertambangan, energi, dan hilirisasi industri. Rusia mempunyai pengalaman dalam pengolahan sumber daya alam berskala besar, termasuk minyak dan gas, logam, mineral, bahan kimia, serta industri berat. Indonesia memiliki cadangan mineral strategis dan sedang membangun hilirisasi. Pertemuan Prabowo–Putin pada 2026 juga memasukkan energi dan sumber daya mineral sebagai bidang kerja sama.
Kerja sama yang ideal berada pada tahap yang lebih tinggi daripada ekspor bahan mentah. Indonesia dapat membawa mineral dan sumber daya alamnya ke dalam proyek pengolahan bersama, sementara Rusia menyediakan teknologi, rekayasa industri, mesin, tenaga ahli, dan pengalaman pengembangan industri berat. Dengan demikian, hilirisasi Indonesia memperoleh tambahan teknologi dan pasar, sementara Rusia memperoleh akses terhadap sumber daya dan pasar Asia Tenggara.
Kapasitas keenam adalah pengembangan kawasan industri dan infrastruktur strategis. Pengalaman Rusia di kawasan Timur Jauh sangat menarik bagi Indonesia. Sejak 2015, kawasan tersebut telah menarik investasi swasta dalam jumlah besar dan menghasilkan lebih dari seribu perusahaan serta ratusan ribu lapangan kerja. Pengembangan Vladivostok juga ditempatkan dalam strategi yang lebih luas untuk menjadikan Timur Jauh Rusia sebagai pintu ekonomi menuju kawasan Asia-Pasifik.https://russiaspivottoasia.com/the-2026-eastern-economic-forum-results-signed-agreements-analysis/.
Di sinilah Vladivostok menjadi sangat penting bagi Indonesia. Kota itu dapat dipandang sebagai laboratorium pembangunan kawasan yang menghubungkan industri Rusia dengan Asia-Pasifik. Indonesia memiliki posisi geografis yang berbeda tetapi memiliki kepentingan serupa sebagai penghubung Samudra Hindia dan Pasifik serta sebagai pintu masuk menuju pasar ASEAN. Karena itu, hubungan Jakarta–Vladivostok dapat dikembangkan melalui pelayaran langsung, penerbangan langsung, investasi pelabuhan, kawasan industri, logistik, perikanan, pupuk, energi, dan perdagangan.
Presiden Prabowo sendiri telah mendorong penguatan konektivitas langsung Indonesia–Rusia melalui jalur laut dan udara. Indonesia juga sedang memperkuat hubungan perdagangan dengan Eurasian Economic Union melalui perjanjian perdagangan yang diharapkan memperluas akses pasar.https://tvbrics.com/en/news/russian-foreign-minister-fta-agreement-between-indonesia-and-eaeu-to-be-signed-by-end-of-year/
Kerangka ini membuat kerja sama dengan Rusia memiliki kemungkinan berkembang dari hubungan bilateral menjadi hubungan Indonesia–ASEAN dengan Rusia dan pasar Eurasia.
Kapasitas ketujuh adalah ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, antariksa, dan teknologi maju. Rusia memiliki tradisi panjang dalam matematika, fisika, teknik, penerbangan, antariksa, nuklir, metalurgi, dan teknologi militer. Indonesia dapat memanfaatkan hubungan tersebut melalui beasiswa, laboratorium bersama, program doktoral, pertukaran peneliti, pusat riset bersama, pengembangan satelit, teknologi penginderaan jauh, robotika, material maju, serta teknologi untuk industri pertahanan dan maritim.
Presiden Prabowo juga telah memasukkan pendidikan tinggi, antariksa, dan teknologi sebagai bidang yang dapat dikembangkan dalam hubungan Indonesia–Rusia. https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/mendiktisaintek-ikuti-kunjungan-kenegaraan-ke-rusia-sains-dan-teknologi-menguat-dalam-hubungan-indonesia-rusia
Kerja sama dan transfer kemampuan antara Rusia- Indonesia, diharapkan akan membawa Indonesia lebih cepat mengejar ketertinggalan. Ukuran keberhasilannya tak hanya dapat dilihat dari jumlah pabrik yang berdiri di Indonesia, ataupun persentase komponen lokal, dan jumlah insinyur yang dilatih. Melainkan juga kemampuan industri nasional dalam melakukan pemeliharaan dan pengembangan teknologi secara mandiri. meningkatkan kemampuan nasional.
Karena itu, saat ini adalah momentum bagi GLASNOST REBORN bagi Rusia dan Indonesia. Karena untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, membutuhkan pendekatan yang jauh lebih strategis. Rusia dapat menjadi salah satu sumber teknologi, modal, pengalaman industri, energi, pertahanan, pendidikan. Serta konektivitas yang membantu Indonesia mempercepat pembangunan. Bukan glasnost yang terulang, dan bukan pula replika penuh sistem Rusia.
