GURU Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, memberikan apresiasi tinggi terhadap intensitas diplomasi tingkat tinggi yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto. Dalam kurun waktu hanya satu pekan, Jakarta menjadi pusat perhatian dunia dengan kehadiran tiga pemimpin negara dari poros geopolitik yang berbeda.
Menurut Yuddy, rangkaian pertemuan ini bukan sekadar agenda protokoler biasa, melainkan penanda kuatnya posisi Indonesia di panggung global.
“Ini adalah konvergensi kepentingan strategis. Indonesia didatangi mitra kunci dari Eurasia, ASEAN, dan Asia Selatan. Jakarta kini menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum orang lain,” ujar Yuddy yang juga merupakan Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia periode 2017–2021.
Eurasia dan Keamanan Kawasan
Yuddy menyoroti kunjungan Presiden Lukashenko sebagai langkah jeli Presiden Prabowo dalam membuka pintu ke pasar Uni Ekonomi Eurasia. Belarus, sebagai anggota kunci blok tersebut, menawarkan kerja sama konkret di sektor industri dan pupuk yang vital bagi ketahanan pangan nasional.
Politik
Sementara itu, pertemuan dengan PM Singapura Lawrence Wong dianggap memperkokoh hubungan dengan tetangga terdekat. Fokus pada pengamanan Selat Malaka menjadi poin krusial.
“Menjaga Selat Malaka tetap aman adalah kepentingan vital dunia. Ini membuktikan Prabowo mampu merawat mitra terdekat sekaligus menjangkau mitra yang jauh,” tambah Menteri PAN RB periode 2014-2016 tersebut.
Diplomasi Berjiwa dengan India
Puncak pekan diplomasi ini, menurut Yuddy, ada pada kunjungan PM Narendra Modi. Selain kesepakatan pertahanan seperti kontrak sistem rudal BrahMos, Yuddy sangat terkesan dengan komitmen India dalam mendukung restorasi Candi Prambanan melalui Archaeological Survey of India.
“Prambanan adalah bukti hidup ikatan peradaban Indonesia dan India selama ribuan tahun. Ketika kedua pemimpin sepakat merawat warisan ini, mereka membangun jembatan persahabatan yang punya jiwa, jauh lebih kokoh dari sekadar perjanjian dagang,” jelasnya.
Indonesia sebagai Jangkar Geopolitik
Menutup analisisnya, Yuddy menegaskan bahwa fenomena para pemimpin dunia yang berbondong-bondong datang ke Jakarta bukanlah sebuah kebetulan. Hal ini merupakan hasil dari kepemimpinan yang memiliki visi dan wibawa di mata internasional.
“Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. Sudah sepantasnya Presiden Prabowo menjadi jangkar geopolitik kawasan, tempat berlabuhnya kepentingan banyak bangsa. Ini adalah buah kepemimpinan yang patut kita apresiasi,” pungkas Yuddy. (Z-1)

