Oleh Justino Djogo Dja, MA.MBA, Balitbang DPP PG,Direktur Kajian Politik dan Luar Negeri.
Kekuasaan memang menggiurkan. Bukan saja di dunia politik. Kekuasaan ada dimana mana dari tingkat paling rendah sampai yang paling tinggi.
Beda perspektif terhadap kekuasaan bisa berdampak variatif. Itu lah mengapa ada pemimpin yang berhasil dan ada yang tidak. Sederhana saja, dia salah atau benar menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.
Sebagai kader Golkar ya saya perlu menyampaikan kritik diri sendiri. Sama halnya dengan pemimpin parpol lain, ya juga di Golkar. Mulai dari DPP sampai ke DPD. Contoh, kali ini fokus kita ke kontestasi musda Golkar baik di DPD 1 maupun DPD 2. Jangan sampai salah pilih pemimpinnya maka perlu sangat selektif memilih siapa yang akan menjadi nahkodanya.
Musda Golkar DPD 1 sebagian besar sudah terlaksana. Katanya ada yang masih belum tuntas. Sedangkan musda Golkar DPD 2 sudah mulai diselenggarakan.
Kandidat ketua sudah bermunculan. Mereka tampil menghiasi medsos dimana mana. Itu tepat agar publik mengenal dan mencerna isi dapur programnya untuk memajukan Golkar. Seiring dengan arahan Ketum DPP PG bahwa Golkar minimal mempertahankan kursi di parlemen, jumlah kepala daerahnya dan berikhtiar menambahnya di pemilu yang akan datang. Tidak muluk-muluk dan memang itu lazimnya harapan setiap parpol.
WASPADAI TIGA TIPE PEMIMPIN INI
Sering kita dengar politis kutu loncat dan politisi karbitan alias munculnya politisi dadakan. Tiba-tiba menjadi politisi.
Nah, perlu sedikit direview dua tipe dan dampak riil bagi parpol, termasuk Golkar.
Politisi kutu loncat adalah mereka yang licin seperti belut dan lihai melihat peluang. Mereka tidak menganut prinsip kesetiaan dan pengabdian serta loyalitas.Tapi mereka mudah meraih kekuasaan.
Ada lagi politisi karbitan. Tipe ini jauh dari proses kaderisasi. Kedekatan dengan lingkaran pimpinan partai membuat mereka tiba-tiba menjadi politisi. Memang mereka tidak memiliki basis di akar rumput namun punya kuku dan cengkraman oligarkis . Oligarki di lingkaran elit parpol dan sumber dana yang kuat, memudahkah mereka meraih kekuasaan. Bisa dibayangkan, jika tipe ini berhasil memimpin , konsentrasinya adalah berbalas budi untuk para elit oligarkis.
Jangan sampai para pemilik suara gelap mata hanya karena iming-iming di luar nalar.
Jangan lupa ini. Kita masih menyusakan tipe politisi sepanjang jaman. Wah,ini seperti racun bagi proses kaderisasi. Benar-benar diluar akal sehat. Ketika partai berbicara getol tentang kaderisasi tapi masih muncul saja politisi sepanjang jaman.
Ada di parlemen, ada di organisasi, institusi..kalau sedikit mau berkelakar ala Seskab Teddy.. “pokoknya ada’. Ini namanya kebablasan.
Ternyata politisi sepanjang masa ini lebih susah dilengserkan karena mereka pun bisa bermetamorfsis menjadi politisi kutu loncat. Cukup dulu soal tiga tipe politisi.Nanti ada banyak yang tersinggung dan mengernyitkan dahinya dan berdebar jantungnya sebagai efek rasa bersalah.
KECERMATAN PEMILIH
Agar tidak masuk dalam pusaran dua tipe pemimpin diatas maka cara cerdas memilih pemimpin adalah mereka yang memiliki proses politik yang teruji. Kita tidak akan memilih pemimpin sempurna. Namun, secara alamiah kita pasti paham secara kasat mata mana pemimpin yang teruji dalam proses politiknya. Salah memilih pemimpin pun sering terjadi. Beberapa suara miris dan penuh penyesalan . Ada yang bilang salah pilih presiden, gubernur, bupati dan sebagainya. Karena apa? Katanya karena terbuai gimmic, rayuan AI, hiasan video di layar medsos . Bisa jadi benar. Bisa juga kita yang salah memilih pemimpin.
