PACITAN – Dalam sebuah simposium strategis yang mempertemukan para pemikir ekonomi dan tokoh nasional, Bapak Ilham Habibie hadir sebagai narasumber utama pada forum dialog yang diselenggarakan oleh The Yudhoyono Institute. Bertempat di kompleks Museum SBY*ANI yang megah di Pacitan, Jawa Timur, diskusi ini menjadi momentum krusial bagi perumusan arah “Ekonomi Baru” Indonesia.
Acara ini dihadiri langsung oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta putra beliau, Bapak Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Bapak Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang berhalangan hadir secara fisik di lokasi, turut memberikan kontribusi pemikiran melalui sambutan video yang menekankan pentingnya kolaborasi intelektual dalam membangun bangsa, serta para hadirin yang turut bergabung dalam diskusi kali ini.
Refleksi Historis: Legacy SBY dan WANTIKNAS
Membuka paparannya, Ilham Habibie menyampaikan sebuah catatan personal yang sarat makna historis. Ia mengingatkan para peserta mengenai peran besar Bapak SBY dalam meletakkan fondasi digital nasional melalui pembentukan WANTIKNAS (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional).
Sebagai figur yang aktif mengawal lembaga tersebut, Ilham memandang kehadirannya di Pacitan bukan sekadar sebagai pembicara, melainkan sebagai bentuk kesinambungan perjuangan teknokratis. Ia menekankan bahwa visi yang digagas SBY di masa lalu kini harus bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.


Ekonomi Pasar Pancasila: Menjawab Tantangan Ketimpangan
Di hadapan deretan tokoh-tokoh terkemuka yang hadir, mulai dari tokoh pengusaha Bapak Chairul Tanjung, hingga pakar ekonomi, Ilham membedah tantangan struktural Indonesia.
Ia mengutip teori pertumbuhan endogen Paul Romer untuk menjelaskan bahwa teknologi adalah mesin utama ekonomi. Namun, merujuk pada pemikiran Thomas Piketty, Ilham memberikan peringatan keras:
“Tanpa mekanisme redistribusi yang efektif, keuntungan dari teknologi cenderung hanya dinikmati oleh segelintir aktor ekonomi teratas. Di sinilah Ekonomi Pasar Pancasila hadir sebagai kerangka nilai agar teknologi tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga keadilan bagi seluruh rakyat.”
Ilham menyoroti angka Gini Rasio Indonesia yang masih stagnan dan ketimpangan penguasaan aset. Baginya, teknologi harus diposisikan sebagai “alat negara” untuk mendistribusikan kemakmuran, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, serta petani dan nelayan.




Keberpihakan pada Sektor Ultra-Mikro dan SDM Hijau
Sorotan tajam diberikan Ilham pada nasib UMKM dan sektor ultra-mikro. Ia mengambil contoh nyata fenomena pedagang kecil yang seringkali terabaikan oleh sistem formal. Ilham menegaskan bahwa transformasi ekonomi baru harus menyentuh hingga ke level terbawah, memastikan mereka mendapatkan akses modal tanpa agunan dan pelatihan teknologi yang relevan melalui optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK).
Selain itu, Ilham memaparkan peluang besar dalam Transisi Energi. Ia menyebutkan potensi ratusan ribu lapangan kerja hijau (green jobs) yang akan tercipta hingga tahun 2030. Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ini hanya bisa diraih jika Indonesia memiliki Grand Design yang mengintegrasikan kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri energi terbarukan.
Harapan untuk Konsolidasi Nasional
Diskusi yang berlangsung dinamis ini diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta forum dari berbagai latar belakang. Forum ini ditutup dengan ajakan Ilham untuk melakukan konsolidasi pemikiran strategis lintas sektor yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan akademisi untuk merumuskan rekomendasi konkret bagi Presiden RI dan lembaga legislatif.
“Jika kita mampu menyatukan agenda teknologi, industri, dan UMKM dalam satu kerangka strategis nasional, maka Indonesia tidak hanya akan tumbuh lebih cepat, tetapi juga lebih kuat secara struktural dan berdaulat secara ekonomi,” tutupnya.
