Jakarta – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dijadwalkan bertemu pada Kamis (15/1) sore waktu setempat untuk “mendapatkan pengarahan tentang situasi di Iran.” Demikian diumumkan juru bicara kepresidenan Somalia yang saat ini mendapat giliran memegang kepemimpinan DK PBB.
Pertemuan itu akan digelar di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait aksi protes besar-besaran di Iran.
Dilansir kantor berita AFP, Kamis (15/1/2026), juru bicara tersebut mengatakan bahwa pertemuan DK PBB itu akan digelar atas permintaan Amerika Serikat.
Gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam. Beberapa hari terakhir, unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan rentetan kekerasan.
Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di Amerika Serikat (AS), seperti dilansir Reuters, Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya telah memverifikasi kematian 2.403 demonstran, 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, 12 anak berusia di bawah 18 tahun, dan 9 warga sipil non-demonstran.
Secara total, menurut data terbaru HRANA, sedikitnya 2.571 orang tewas selama gelombang unjuk rasa menyelimuti Iran. HRANA menghimpun laporannya dengan mendasarkan pelaporan dari para pendukungnya di Iran untuk memeriksa silang informasi yang diberikan.
Data HRANA ini dirilis setelah seorang pejabat Iran, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan pada Selasa (13/1) bahwa sekitar 2.000 orang tewas dalam unjuk rasa besar-besaran yang melanda negara itu beberapa waktu terakhir.
Pejabat Iran itu menyalahkan para “teroris” atas kematian warga sipil dan personel keamanan selama unjuk rasa berlangsung.
Pernyataan pejabat Iran itu menjadi momen pertama kalinya otoritas Teheran memberikan jumlah korban tewas secara keseluruhan, setelah unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan berlangsung selama lebih dari dua pekan terakhir.
