FDN XVIII – Re-Industrialisasi dan Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia memiliki visi besar untuk menjadi negara maju pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam dokumen Visi Indonesia 2045 yang disusun oleh Bappenas, ditargetkan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai USD 7 triliun, dan pendapatan per kapita sebesar USD 23.000–29.000 per tahun. Untuk mewujudkan target ambisius tersebut, Indonesia perlu melakukan transformasi struktural ekonomi, dengan menjadikan reindustrialisasi sebagai fondasi utama.

Namun, tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah kondisi deindustrialisasi dini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB nasional menurun dari 29% pada tahun 2001 menjadi sekitar 18,34% pada tahun 2023. Padahal, negara-negara yang berhasil menjadi negara maju seperti Korea Selatan, Tiongkok, dan Jerman justru memperkuat sektor industrinya sebelum melakukan diversifikasi ke sektor jasa.

Penurunan kontribusi industri ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tingginya biaya logistik, ketergantungan pada impor bahan baku dan energi, rendahnya kemampuan inovasi industri dalam negeri, serta lemahnya integrasi antara industri hulu dan hilir. Oleh karena itu, strategi reindustrialisasi harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam (hilirisasi), penguatan rantai pasok nasional, dan adopsi teknologi industri 4.0.

Seiring dengan itu, sektor energi menjadi komponen yang tidak terpisahkan dari proses reindustrialisasi. Sektor industri merupakan pengguna energi terbesar kedua di Indonesia, setelah sektor transportasi. Menurut data Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2023 dari Kementerian ESDM, konsumsi energi final oleh sektor industri mencapai 38,3 juta SBM (Setara Barel Minyak) atau 27,7% dari total konsumsi energi nasional pada tahun 2022. Peningkatan kapasitas industri tentu akan meningkatkan kebutuhan energi nasional secara signifikan.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan energi nasional. Meski memiliki cadangan energi fosil yang besar, seperti batu bara (total cadangan ±38,84 miliar ton) dan gas bumi (cadangan terbukti ±41,6 triliun kaki kubik), produksi dan konsumsi minyak bumi terus menunjukkan tren defisit. Per tahun 2023, Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 612 ribu barel minyak per hari, sedangkan kebutuhan domestik mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sehingga menyebabkan ketergantungan besar pada impor.

Kondisi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global dan tekanan geopolitik. Oleh karena itu, upaya penguatan ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi, transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT), serta efisiensi energi menjadi hal yang mendesak. Target bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025 (sesuai Rencana Umum Energi Nasional/RUEN) saat ini masih jauh dari tercapai, karena hingga 2023, bauran EBT baru mencapai 14,11% dari total konsumsi energi primer.

Pembangunan industri yang tangguh dan berkelanjutan membutuhkan sistem energi yang andal, terjangkau, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, strategi reindustrialisasi harus berjalan seiring dengan kebijakan ketahanan energi nasional agar tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga mewujudkan pembangunan yang inklusif, hijau, dan berkelanjutan. Dengan demikin, pembangunan proyek Geothermal dibeberapa daerah seperti di NTT Nusa Tenggara Timur patut mendapat perhatian Kementerian ESDM agar aspek lingkungan hidup dan aspirasi masyarakat lokal dapat didengar.

Indonesia memiliki potensi energi panas bumi (geothermal) terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yakni sekitar 23,7 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya masih relatif kecil. Hingga 2023, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Indonesia baru mencapai sekitar 2.389 MW (sekitar 10 % dari potensi nasional), tersebar di lebih dari 15 wilayah kerja panas bumi (WKP).

Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas menjadi 3.355 MW pada 2030 (RUPTL PLN 2021–2030), seiring dengan agenda transisi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan mengurangi emisi karbon. Pengembangan energi panas bumi di Indonesia adalah peluang besar untuk mendorong transisi energi bersih, namun memerlukan tata kelola lingkungan dan sosial yang ketat. Pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sipil harus memastikan bahwa ekspansi PLTP dilakukan secara berkelanjutan, adil, dan partisipatif.

Dengan melihat konteks tersebut, maka diperlukan forum diskusi dan kajian strategis yang mampu mengintegrasikan dua agenda besar ini: Reindustrialisasi dan Ketahanan Energi, sebagai landasan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Maka dari itu Forum Dialog Nusantara berupaya untuk menyelenggaran diskusi yang mempertemukan para pemangku kepentingan, politisi, akademisi, dan tokoh masyarakat dalam sebuah forum konstruktif yaitu Forum Dialog Nusantara untuk menemukan solusi yang holistik demi pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas dan pelestarian lingkungan hidup yang menjadi syarat mutlak.

TUJUAN KEGIATAN

  1. Mengkaji urgensi dan arah kebijakan reindustrialisasi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
  2. Menganalisis tantangan dan peluang dalam mewujudkan ketahanan energi nasional agar sinergi ketahanan dan lingkungan hidup serta masyarakat lokal berjalan dengan seimbang tanpa ada yang dikobankan.
  3. Merumuskan rekomendasi strategis yang integratif antara pembangunan industri dan ketahanan energi untuk mencapai swasemada energi menuju Indonesia Emas.
  4. Menjembatani kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

TEMA & MATERI KEGIATAN

  1. Tema kegiatan ini adalah Re-Industrialisasi dan Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas
  2. Materi kegiatan ini mencakup:
    • Mendiskusikan kajian arah kajian dari proses reindustrialisasi untuk mendukung Indonesia Emas 2045.
    • Melakukan analisis tentang tantangan dan peluang yang akan dihadapi kedepan dalam ketahanan energi nasional juga misi Swasembada Energi.
    • Strategi integratif antara pembangunan industri dan ketahanan energi.
    • Menjembatani kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (reindustrialisasi)

NARASUMBER

Sambutan:

  • Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA. – Co-Founder FDN, Ketua Dewan Penasihat FDN.

Keynote Speech:

  • Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si. – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia

Para Pembicara:

  • Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si. – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia,
  •  Andreas Hugo Pareira – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI,
  • H.C. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D. – Dewan Energi Nasional RI,
  • Mukhtarudin – Anggota Komisi XII DPR RI,
  • Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA. – Co-Founder FDN, Ketua Dewan Penasihat FDN,
  • Emanuel Melkiades Laka Lena, S,Si., A.Pt. – Gubernur Nusa Tenggara Timur,
  • Saleh Husin, S.E., M.Si. – Tokoh Nusa Tenggara Timur, Menteri Perindustrian RI 2014 – 2016.

Moderator:

  • Justino Djogo, MA., MBA. – Direktur Eksekutif FDN.

Penutup:

  • Justino Djogo, MA., MBA. – Direktur Eksekutif FDN.

PELAKSANAAN KEGIATAN

Kegiatan akan dilaksanakan secara hybrid di lokasi kegiatan dan melalui aplikasi virtual meeting. Kegiatan ini juga akan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Forum Dialog Nusantara.

Waktu               : Jumat, 18 Juli 2025

Pukul                : 14.00 – selesai

Tempat             : Perpustakaan Habibie & Ainun, Jl. Patra Kuningan XIII No. 5 Kec. Setiabudi, Jakarta Selatan.

Close Menu